Kekayaan: Salah Satu Penentu Panjangnya Usia?
Kesenjangan antara si kaya dan si miskin tidak hanya terlihat pada saldo rekening, tetapi juga pada durasi kehidupan mereka. Memang umur tidak ada yang tahu, namun agar kita memahami bahwa kekayaan juga menjadi faktor kemungkinan seseorang memiliki umur lebih panjang.
Dari data di tahun 2016, menunjukkan adanya tren yang mengkhawatirkan di mana angka harapan hidup orang kaya dan kelas ekonomi bawah memiliki perbedaan yang signifikan. Ketimpangan ini menciptakan “jurang umur” semakin lebar di berbagai negara maju maupun berkembang. Lantas, bagaimana hasil dari survei yang dilakukan oleh Gary Burtless satu dekade lalu?
Data Bicara: Yang Kaya, Yang Umur Panjang
| Kategori Kelompok | Kelahiran 1920 (Mencapai Usia 50 thn pd 1970) | Kelahiran 1940 (Mencapai Usia 50 thn pd 1990) | Tren Kesenjangan |
| Wanita (10% Terbawah) | 80,4 Tahun | 80,4 Tahun | Tetap (Stagnan) |
| Wanita (10% Teratas) | 84,1 Tahun | 90,5 Tahun | Naik Pesat (+6,4 thn) |
| Celah (Gap) Wanita | 3,7 Tahun | 10,1 Tahun | Melebar 2,7x lipat |
| Celah (Gap) Pria | 5,0 Tahun | 12,0 Tahun | Melebar 2,4x lipat |
Dari data diatas, dapat kita simpulkan bahwa terjadi fenomena stagnasi untuk kelas bawah dan peningkatan harapan hidup untuk kelas atas, baik wanita maupun pria.
Pada kelompok wanita, mereka yang berada di 10% pendapatan terbawah tidak mengalami kenaikan angka harapan hidup sama sekali dalam dua dekade, dimana angka harapan hidup berada di angka 80,4 tahun). Sebaliknya, wanita di 10% teratas mengalami lonjakan dari 84,1 tahun menjadi 90,5 tahun.
“Jurang usia” antara ekonomi bawah dan atas semakin lebar setiap tahunnya, dimana wanita ekonomi bawah memiliki angka harapan hidup 10 tahun lebih pendek, sedangkan pria 12 tahun lebih pendek dibanding mereka di ekonomi atas.
Memang data ini diambil di negara United States atau Amerika Serikat, namun jika kita melihat konglomerat di Indonesia yang telah wafat, memvalidasi data ini. Kita ambil contoh:
| Sosok | Wafat Usia |
| Ir. Ciputra (pendiri Ciputra Group) | 88 th |
| Soeharto (Presiden ke-2 RI) | 86 th |
| BJ Habibie (Presiden ke-3 RI) | 83 th |
| Eka Tjipta Widjaja (Pendiri SInar Mas) | 97 th |
Dan, masih banyak lainnya jika kita mencari data open access di Internet. Berbeda dari hal tersebut, saya harus menjadi anak yatim piatu setelah wafatnya bapak dan ibu sebelum usia 55 tahun.
Selisih angka harapan hidup ini bukan 10 tahun seperti pada data diatas, namun 30 tahun.
Dari bukti empiris dan pengalaman hidup maka artikel ini ditulis, apa yang membuat umur orang tua saya lebih ‘pendek’ dibanding empat sosok diatas? Tentu saja, kekayaan menjadi faktor penting yang tidak bisa dihilangkan.
Baca juga: Hidup Adalah Ekonomi: Kelola 4 Masalah Utama Sehari-Hari
Faktor Pembeda Ekonomi Bawah dan Atas untuk Memperpanjang Harapan Hidup
Banyak orang ekonomi bawah meromantisasi kemiskinan dengan kata “Uang tidak dibawa mati”, “Hidup tidak hanya mencari uang”, “Uang tidak bisa membeli kebahagiaan.”, realitanya, uang bisa memberi pilihan terhadap fasilitas hidup, sehingga tercipta harapan atau kemungkinan bahwa manusia bisa hidup lebih baik, lebih sehat, lebih bahagia, lebih bermanfaat, dan lebih berumur panjang.
Empat hal dibawah ini adalah pembeda bagaimana individu ekonomi atas memiliki pilihan yang lebih banyak terhadap:
1. Akses Terhadap Lingkungan dan Nutrisi
Salah satu alasan utama dibalik fenomena ini adalah lingkungan tempat tinggal. Kelas atas mampu tinggal di kawasan yang aman, minim polusi, dan jauh dari limbah industri. Namun, ekonomi rendah sering kali terpapar pada stressor (sesuatu yang menyebabkan stress) fisik seperti kebisingan, polusi udara, hingga bahan kimia berbahaya (Barber, 2024).
Selain itu, mereka sering terjebak dalam food deserts atau kekurangan makanan yang bernutrisi, akibat akses terhadap makanan segar dan bergizi sangat sulit, sehingga mereka terpaksa mengonsumsi makanan olahan murah yang memicu obesitas dan penyakit kronis (Barber, 2024).
| Faktor Pembeda | Ekonomi Rendah | Ekonomi Atas |
| Lingkungan Tempat Tinggal | Tinggal di area padat penduduk yang bising dan berdebu. | Tinggal di exclusive gated community atau apartemen dengan double glazing windows yang kedap suara. |
| Kualitas Udara & Limbah | Terpapar asap knalpot kendaraan umum atau limbah got yang terbuka di depan rumah (polusi udara & air). | Dikelilingi taman kota, pepohonan rindang, dan sistem pembuangan limbah bawah tanah yang bersih. |
| Akses Makanan Segar | Food Desert: makanan instan, olahan, gorengan. | Sayuran hidroponik, buah impor, dan bahan makanan tanpa pengawet. |
| Pola Konsumsi | Membeli makanan olahan (sosis, kornet) atau junk food murah karena kalori per Rupiah lebih terjangkau daripada makanan segar. | Membeli makanan berdasarkan nutrisi per kalori; mampu membayar harga premium untuk makanan rendah gula/lemak. |
| Dampak Kesehatan | Risiko tinggi terkena ISPA (karena polusi) dan diabetes/obesitas (karena asupan karbohidrat & gula berlebih). | Memiliki profil kesehatan yang lebih baik karena paparan zat kimia minim dan asupan gizi yang terjaga. |
| Tingkat Stressor | Stressor fisik tinggi: Kebisingan konstan membuat tidur tidak nyenyak dan memicu hormon kortisol (stres). | Stressor fisik rendah: Keheningan dan kenyamanan rumah membantu pemulihan mental setelah bekerja. |
2. Beban Psikologis dan Jaringan Sosial
Selain stressor fisik, stres kronis akibat kesulitan finansial berdampak langsung pada kesehatan fisik. Ekonomi atas cenderung memiliki jaringan sosial yang lebih luas dan kuat, seperti komunitas olahraga (padel, tenis, lari, bersepeda, dll). Dimana interaksi positif ini bisa meningkatkan kadar Oksitosin dalam tubuh yang berfungsi untuk mengurangi stress.
Mengutip dari jurnal Frontier, Oksitosin tidak hanya menurunkan stress, namun signifikan melindungi jantung dengan memperbaiki kinerja jantung, mengurangi ukuran jantung yang rusak, mencegah kematian sel, mempercepat pembentukan sel darah baru, dan banyak lagi.
Di sisi lain, kemiskinan seringkali disertai dengan isolasi sosial, seperti merasa terasing, ditolak, dan kesepian, yang menciptakan kecemasan terus-menerus, sehingga mempercepat penuaan sel, meningkatkan stres pada sel, dan menurunkan sistem imun.
| Faktor Pembeda | Ekonomi Rendah | Ekonomi Atas |
| Jaringan Sosial | Isolasi Sosial: Cenderung merasa terasing karena keterbatasan biaya untuk bersosialisasi atau merasa rendah diri (social rejection). | Komunitas Aktif: Memiliki akses ke klub hobi (Padel, Tenis, Golf) yang berfungsi sebagai wadah interaksi positif. |
| Aktivitas Fisik & Sosial | Olahraga sering dianggap “kemewahan” karena keterbatasan waktu dan energi setelah bekerja fisik/lembur. | Olahraga kelompok menjadi gaya hidup (lari pagi bersama atau bersepeda) yang memperkuat ikatan emosional. |
| Dominasi Hormon | Kortisol & Adrenalin: Kecemasan finansial terus-menerus memicu hormon stres yang merusak pembuluh darah. | Oksitosin: Interaksi dalam komunitas meningkatkan “hormon cinta” yang menenangkan sistem saraf. |
| Dampak pada Jantung | Risiko kematian sel jantung dan penuaan dini sel darah karena stres kronis yang tak terhenti. | Kardiometabolik yang Sehat: Oksitosin memperbaiki kinerja jantung dan mempercepat pembentukan sel darah baru. |
| Sistem Imun | Menurun drastis akibat kesepian dan stres, membuat tubuh rentan terhadap penyakit menular dan kronis. | Kuat dan stabil; dukungan sosial terbukti mempercepat proses penyembuhan saat sakit. |
| Proses Penuaan | Mempercepat penuaan sel: Stres tingkat sel mempercepat kerusakan DNA (telomer memendek lebih cepat). | Penuaan yang lebih lambat dan berkualitas karena minimnya tekanan “bertahan hidup” (survival mode). |
Baca juga: Saat Jalan Kaki Dianggap Tanda Kemiskinan, Bukan Investasi Cerdas
3. Faktor Pendidikan dan Perilaku Sehat
Individu ekonomi atas memiliki pilihan untuk memiliki pendidikan tinggi, dimana pendidikan memainkan peran krusial dalam memperpanjang usia. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi sering kali berkorelasi dengan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya olahraga dan pencegahan penyakit (Burtless, 2016).
Data menunjukkan bahwa individu dengan gelar sarjana memiliki keunggulan harapan hidup sekitar dua tahun lebih lama dibandingkan mereka yang hanya lulusan SMA (Barber, 2024). Selain itu, ekonomi atas tidak hanya memiliki kesempatan hidup lebih lama, tetapi juga menikmati lebih banyak tahun hidup tanpa disabilitas atau keterbatasan fisik dibandingkan mereka dengan ekonomi rendah (Zaninotto et al., dalam NCBI, 2020).
| Faktor Pembeda | Ekonomi Rendah | Ekonomi Atas |
| Akses Pendidikan | Sering kali terhenti di tingkat menengah (SMA) karena kebutuhan untuk segera bekerja (Survival Mode). | Memiliki pilihan untuk menempuh pendidikan tinggi (Sarjana/Pascasarjana) sebagai investasi jangka panjang. |
| Literasi Kesehatan | Kurangnya pemahaman mendalam tentang pencegahan penyakit, cenderung berobat hanya saat sudah sakit parah. | Memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya skrining dini, nutrisi, dan gaya hidup preventif. |
| Harapan Hidup | Secara statistik memiliki harapan hidup yang lebih pendek (selisih ~2 tahun lebih rendah dibanding lulusan sarjana). | Menikmati umur yang lebih panjang berkat kesadaran akan risiko kesehatan dan lingkungan yang mendukung. |
| Masa Tua (Disabilitas) | Mengalami keterbatasan fisik atau disabilitas lebih awal akibat akumulasi kerja fisik berat dan nutrisi buruk, seperti disebabkan oleh stroke. | Menikmati lebih banyak tahun hidup dalam kondisi fit dan mandiri (bebas dari disabilitas kronis). |
| Aktivitas Fisik | Olahraga sering dianggap beban tambahan karena tubuh sudah lelah akibat pekerjaan rutin atau rumah tangga. | Melihat olahraga sebagai kebutuhan esensial dan bagian dari jadwal harian yang tidak bisa dikompromi. |
| Manajemen Penyakit | Terjebak dalam penanganan gejala (mengobati yang sakit), akses terbatas ke teknologi medis terbaru. | Berfokus pada pengelolaan kesehatan menyeluruh, akses mudah ke konsultasi ahli dan teknologi medis pencegahan. |
4. Peran Genetik dan Mobilitas Sosial
Menariknya, terdapat diskusi mengenai kontribusi genetik. Sekitar seperlima (20%) dari variasi umur panjang manusia dipengaruhi oleh faktor genetik yang juga berkaitan dengan ketahanan terhadap stres dan optimisme (Barber, 2024).
Individu yang memiliki mobilitas sosial tinggi (mampu meningkatkan status ekonominya) cenderung memiliki harapan hidup yang lebih baik, baik karena faktor genetik maupun pengalaman hidup yang lebih positif.
| Faktor Pembeda | Ekonomi Rendah | Ekonomi Atas |
| Kontribusi Genetik (20%) | Genetik penahan stres mungkin ada, namun sering kali “tertimbun” oleh beban lingkungan yang ekstrem. | Memiliki variasi genetik yang mendukung ketahanan stres (resilience) dan optimisme. |
| Pandangan Hidup (Optimisme) | Cenderung memiliki pandangan pessimistic karena pengalaman hidup yang penuh tekanan finansial berulang. | Optimisme yang tinggi mendorong individu untuk mengambil peluang, berinvestasi, dan berani mengambil risiko. |
| Mobilitas Sosial | Sulit naik kelas karena energi habis untuk bertahan hidup (survival mode), sehingga potensi genetik tidak optimal | Mampu meningkatkan status ekonomi, keberhasilan ini memperkuat kesehatan mental dan memperpanjang usia. |
| Respon terhadap Stres | Stres dianggap sebagai ancaman konstan yang merusak sistem imun dan mempercepat penuaan. | Stres sering kali dianggap sebagai tantangan yang bisa diatasi, berkat dukungan sumber daya dan genetik. |
| Lingkaran Pengalaman | Pengalaman negatif (penolakan, isolasi) memperburuk ekspresi genetik yang berkaitan dengan kesehatan. | Pengalaman positif (pencapaian, pengakuan) memicu ekspresi genetik yang mendukung panjang umur. |
Kesenjangan angka harapan hidup bukanlah masalah medis semata, melainkan masalah sistemik yang melibatkan akses ekonomi, pendidikan, dan keadilan lingkungan. Tanpa kebijakan yang melindungi masyarakat berpenghasilan rendah, jurang usia ini akan terus melebar, menjadikan umur panjang sebagai hak istimewa yang hanya bisa dibeli oleh segelintir orang.
Namun, manusia selalu punya pilihan dengan kemajuan teknologi dan informasi hari ini. Dibanding menunggu kebijakan yang melindungi masyarakat, menggunakan smartphone atau internet untuk meningkatkan ekonomi dan mengubah mindset adalah sebuah keniscayaan. Selalu ada harapan untuk hidup yang lebih baik!
Referensi:
- Barber, N. (2024, August 2). Reasons that rich people live so long. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-human-beast/202408/reasons-that-rich-people-live-so-long
- Burtless, G. (2016, February 22). The growing life-expectancy gap between rich and poor. Brookings Institution. https://www.brookings.edu/articles/the-growing-life-expectancy-gap-between-rich-and-poor/
- Zaninotto, P., Batty, G. D., Stenholm, S., Kawachi, I., Hyde, M., Kivimäki, M., & Steptoe, A. (2020). Socioeconomic inequalities in disability-free life expectancy in older people from England and the USA: A cross-national study. The Journals of Gerontology: Series A, 75(7), 1306–1313. https://doi.org/10.1093/gerona/glz266
- Jankowski, M., Danalache, B. A., & Gutkowska, J. (2020). The role of oxytocin in cardiovascular protection. Frontiers in Psychology, 11, 2139. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.02139
- Yamanie, N., Ghassani, A. Z., Srifitriani, A., & Rizke, C. S. (2023). High socioeconomic status is associated with stroke severity among stroke patients in the National Brain Centre Hospital, Jakarta, Indonesia. Preventive Medicine Reports, 35, 102375.https://doi.org/10.1016/j.pmedr.2023.102375
