Solo-Traveling: Bukan Sekedar Hedon tapi Investasi yang Terukur

Kamu penyuka solo traveling? Tosss! karena kita punya kesukaan yang sama. Sayangnya solo-traveling sering disalah artikan sebagai bentuk konsumsi hedonis atau pemborosan, bukan sebuah investasi yang terukur.

In this economy, milennial dan gen Z mendefinisikan ulang tentang kata “kekayaan”. Kekayaan tidak lagi melulu diukur dari saldo rekening atau kepemilikan aset berwujud seperti properti dan gadget terbaru, tetapi juga pengalaman hidup yang diperoleh dari traveling, entah berkelompok atau sendiri (solo traveling).

Dari Rinjani untuk Pemahaman Baru tentang Kekayaan 

Ini bukan sekadar perjalanan wisata, ini adalah investasi strategis di mana sumber daya yang dialokasikan (waktu, tenaga, uang) bertujuan untuk menghasilkan imbal hasil (return on investment) berupa penemuan diri (self-knowledge) dan penyatuan dengan alam (grounding).

Itulah yang saya maksud dengan investasi terukur, karena setelah menikmati lelahnya dan indahnya perjalanan, imbal hasil atau ROI yang saya dapatkan adalah hidup yang limpah dengan syukur dan keberanian untuk melangkah lebih jauh lagi. Ini adalah intangible asset atau kekayaan tak berwujud. 

Dalam visualisasi jalan kehidupan yang bercabang, di mana setiap jalur, seperti karir, keluarga, pendidikan, dan kesehatan membutuhkan input sumber daya yang berbeda, memilih untuk mendaki Rinjani adalah bentuk investasi ke kesehatan (khususnya mental) dan pengenalan diri.

CostBenefit
Alokasi waktu, tenaga, uang.Capek, kurang tidur, kedinginan.Self awareness (semakin tahu tentang diri sendiri)Grounding (rasa takjub terhadap alam dan pencipta).Hidup lebih tenang
dan nyaman.Ada pengalaman untuk diceritakan.

Baca juga: Kekayaan: Salah Satu Penentu Panjangnya Usia?

Return of Investment dari Solo Traveling

Setiap pilihan selalu memiliki cost yang harus ditanggung, dalam hal ini adalah uang yang dialokasikan, waktu yang dikeluarkan, dan tenaga yang dihabiskan, serta peluang lainnya yang mungkin bisa dilakukan selain mendaki gunung Rinjani. Lantas, apa benefit atau inbal hasil dari perjalanan ini?

1. Menyatu dengan Alam (Grounding)

Di Plawangan, saya menyaksikan matahari terbenam dengan pesona Danau Segara Anak. Senja hari itu tidak hanya merajut memori, tapi secara metabolisme juga menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan mindfulness. To be honest, tenggelam dalam cahaya emas langit sembalun begitu mewah, tidak pernah saya dapati ketika di perkotaan.

Kebisingan kota juga digantikan oleh keheningan alam, lampu gedung beralih dengan pesona taburan bintang (Milky Way). Ternyata, semesta bekerja sama untuk “menjaga” kita, ‘tangan-tangan nya’ tak pernah meninggalkan.

2. Penemuan Diri (Self-Awareness)

Mendaki memang melatih fisik, namun juga membangun kesadaran diri tentang makna hidup. Saat berjalan perlahan, saya belajar mendengarkan tubuh, kapan harus berhenti, kapan harus memulai lagi. Dan ketika kembali dengn segala kesibukan dan ‘hustle culture‘ ibukota dengan dorongan target tanpa henti. Di alam, saya belajar memahami suara diri untuk tahu siapa dan kemana diri harus pergi, bahkan berhenti untuk melompat lebih tinggi.

Baca juga: Dari Ekonomi, Belajar Memahami Perilaku Manusia 

3. Self-Reward yang Bermakna

Bagi banyak orang, mendaki Rinjani adalah bentuk penghargaan untuk diri sendiri setelah lelah dengan rutinitas kerja, tekanan sosial, dan kesibukan kota. Imbal hasilnya bukan dalam bentuk barang mewah, melainkan pengalaman yang menyadarkan saya apa yang benar-benar berarti dalam hidup adalah bukan terletak pada benda yang dimiliki, namun seberapa kita menghargai kehidupan itu sendiri, ya prosesnya, figurnya, kelelahannya, dan kemenangannya.

Dalam solo-traveling, risiko manajemen ego menjadi sangat krusial. Konsep ego-depletion (kehabisan tekad/energi ego) sering terjadi dalam kondisi stres tinggi, seperti saat summit Rinjani dengan waktu istirahat minimal dan medan yang menguji mental.

Ketika dihadapkan pada pilihan antara ego pribadi (mencapai puncak sebelum sunrise) dan moralitas (menemani rombongan yang kelelahan), saya harus membuat keputusan yang rasional. Dan, disinilah yang membedakan manusia dengan robot, ya empati.

Bahkan dari solo traveling, saya bisa melihat perjalanan ini dengan nilai ekonomi. Ekonomi pada intinya adalah tentang pilihan-pilihan hidup. Ini adalah tentang bagaimana mengelola sumber daya terbatas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tak terbatas.

Solo-traveling ke Rinjani bukanlah sekadar ‘hedon’ atau membuang uang. Ini adalah tindakan ekonomi yang matang untuk mengalokasikan waktu, tenaga, dan uang untuk keuntungan jangka panjang dalam ‘portofolio hidup’saya, sekaligus benefit lainnya berupa kesehatan mental, pengetahuan diri, dan resiliensi.

Jadi, mau kemana lagi besok?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top